Anggota DPRD Kecewa Soal SDN 02 Tajur Citeureup Dibiarkan Rusak

CITEUREUP-Adanya kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 02 Tajur Kecamatan Citeureup, yang sangat memprihatinkan dan terkesan terabaikan. Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, mengaku kecewa terhadap Dinas Pendidikan hingga Pemerintah Daerah dan meminta intansi terkait cepat tanggap.

“Ini sudah benar-benar memalukan. Dunia pendidikan yang kondisinya masih ada sekolah negeri yang sangat nemprihatinkan, tapi penangannya terkesan lambat,” kata Teguh Widodo, Anggota Komis IV DPRD Kabupaten Bogor, saat dihubungi, HRB, Mingu (22/08/2021).

Menurut Teguh, kondisi inipun diakui pihaknya saat melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) baru-baru ink. Bahkan, dirinya sudah mengawal persoalan ini kepada pihak Disdik Kabupaten Bogor, Namun hal ini belum juga ada progres. Selain itu, jika pihak pemda tidak bisa mengurus hal ini, dirinya menyarankan para pejabat hingga Bupati Bogor untuk tidak tinggal diam.

“Ini berbanding terbalik dengan proyek-proyek yang saat ini sedang berjalan di pemda dengan nilai Miliaran. Sementara dunia pendidikan, seperti SDN 02 Tajur yang rusak beetahun-tahun, malah terkesan dibiarkan. Kalau pejabatnya gak becus, mundur saja lah,” tegas Teguh.

Teguh menjabarkan, pendidikan adalah hak setiap warga negara. Jika lembaga pendidikannya banyak yang rusak, maka negara sesungguhnya sudah tidak adil pada anak-anak, khususnya anak-anak usia sekolah.

“Pendidikan itu hak dari anak-anak kita. Pendidikan kita harus dibenahi, juga sekolahnya. Jangan sampai hak itu tidak kita berikan dengan benar. Kalau ini terjadi, maka ini adalah ketidak adilan yang nyata kepada generasi penerus kita,” tutup Teguh.

Pemerintah Desa Tajur, Dino selaku Sekdes menjelaskan jika persoalan ini sudah masuk pengajuan ke Disdik Kabupaten. Tapi, lantaran masa PPKM masih belum terealisasi.

“Kami dari pihak desa sudah mendorong ke dinas terkait,” jelas Dino.

Kepala SDN 02 Tajur, Dedeh menuturkan kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 02 Tajur yang terletak dijalan raya Tajur-Leuwi Bilik Desa Tajur Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor, memprihatinkan meski sudah bertahun-tahun dan kerap diajukan pihak sekolah.

Selain bangunan sekolah yang mulai rapuh, plafon atap setiap ruang siswa dan guru yang kerap bocor, tembok ruang kelas roboh akibat tertimpa pohon beberapa waktu lalu, tentunya berdampak pada ketidaknyamanan dalam menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hingga mengancam keselamatan.
“Rehab sekolah ini sebelumnya sudah terjadwal pada Tahun 2020 lalu. Namun lantaran pandemi Covid-19, rencana tersebut tertunda. Jadi diundur lagi ke tahun 2021. Rencana bulan Juni atau Juli, tapi sampai sekarang masuk bulan Agustus belum juga ada perbaikan,” kata Dedeh.

Baca juga:  Tilang Motor Wartawan, Matel Gantikan Tugas Polisi

Dedeh menjelaskan, dirinya ditugaskan di sekolah ini sejak Dua tahun lalu. Iapun berjanji akan mempertanyakan kembali persoalan ini kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.

“Saya konfirmasikan ke Disdik, dan membuat proposal untuk diajukan lagi,” terangnya.

Pihaknya berharap, sekolah ini untuk segera di perbaiki pihak Pemda Bogor. Pasalnya, sekolah dengan kondisi seperti ini berdaampak pada minat siswa didik untuk mengikuti KBM.

“Siapa sih anak yang mau sekolah dengan keadaan seperti ini. Memang sekarang masih belajar daring, tapi nanti pasti ada belajar tatap muka juga,” paparnya.

Dedeh mengaku sangat merasakan dimasa pandemi ini, yang berdampak pada tertundanya rehab gedung sekolah . Akan tetapi pihaknya sangat berharap penuh ada keajaiban dibulan Agustus ini ada realisasi pembangunan.

“Saya memohon kepada disdik cepat terealisasi pembangunan SDN 02 Tajur ini. Soalnya, kondisi sekolah ini juga sudah beberapa kali longsor, tertimpa pohon. Pertama ruang perpustakaan dan kamar mandi. Kemudian pada maret kembali longsor nengakibatkan toren air rubuh. Meski terus-menerus terkena musibah, tapi kenapa belum ada penanganan yang pasti,” harapnya.

Untuk diketahui dari data yang dihimpun, jumlah murid di SDN 02 Tajur ini, dari yanh sebelumnya 220 anak didik, saat ini berkurang menjadi 203 anak didik. Tentunya menurun, karena kondisi sekolah yang belum diperbaiki. Kondisi inipun juga berdampak pada guru-guru honor, karena guru honor digaji tergantung banyaknya murid, tentunya berdeda dengan guru yang sudah PNS.(AS)