Tolak Drilling PT SEGS Semakin Meluas

Foto: osialisasi Kegiatan Drilling kepada masyarakat di Desa Purabakti, Kecamatan Pamijahan .(HRB)

PAMIJAHAN – Penolakan rencana Drilling oleh PT. Star Energy Geothermal Salak (SEGS) Ltd terus meluas. Kali ini, seluruh desa di Kecamatan Pamijahan  menolak proyek eksploitasi air tanah tersebut.

Menurut Tokoh masyarakat Kampung Garehong yang terletak di Desa Purwabakti, Kubil mengaku khawatir dengan aktivitas tersebut. Khususnya pada ekses limbah perusahaan. 

” Kalau dampak negatif saat pengeboran cerobongnya bocor racunnya itu langsung ke seluruh air sehingga ikan-ikan pada mati,” kata Kubil pada Selasa  (22/6/2021).

Belajar dari pengalaman, sambung Kubil, aktivitas serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu, kerugian yang dialami oleh warga pun mendapat kompensasi, namun itu yang menjadi kekhawatiran masyarakat sekitar ketika terjadi gempa tentu dampak yang dirasakan akan lebih besar dari nilai kompensasi.

“Kalau terjadi gempa bisa banyak korban nyawa. Walaupun sudah dijelaskan oleh  perusahaan, tetap saja warga masih sangat khawatir,” tuturnya.

Kubil berjanji, jika terdapat ekses pencemaran yang merugikan masyarakat. Dirinya dan warga lainnya akan menuntut perusahaan. 

Terpisah, Kepala Desa Purwabakti Tajudin Arifin mengatakan

Getaran tanah yang bersumber dari aktivitas di dalam area perusahaan sangat terasa.  Anehnya, perusahaan mengaku belum memulai pengeboran.

Baca juga:  Kesulitan Berobat, Warga Nirmala Keluhkan Minim nya Tenaga Kesehatan 

” Laporan itu dari masyarakat yang merasakannya. Apapun yang di keluhkan oleh masyarakat akan saya tampung dan laporkan,” tegasnya.

Sementara itu, pihak PT Star Energy Geothermal Salak Ltd melalui Manajer Komunikasi Iwan Azop menegaskan, pihaknya belum memulai pengeboran.  Karena itu perusahaan berinisiatif menggelar kegiatan sosialisasi untuk membahas rencana kegiatan drilling yang akan dilakukan oleh SEGS.

“Kegiatan ini sangat penting untuk mempertahankan produksi energi listrik Objek Vital Nasional (Obvitnas) PLTP Salak sebesar 377 MW yang disalurkan ke masyarakat dan dunia usaha. Karena penting kami lakukan sosialisasi terlebih dahulu,” terangnya.

Ia menerangkan, rencana pelaksanaan kegiatan drilling sumur tambahan baru akan mulai dikerjakan pada Juni 2021 hingga Januari 2022 mendatang.

Terkait kekhawatiran warga dia mengklaim dan memastikan kegiatan drilling tidak akan mempengaruhi sumber air milik masyarakat.

“Manajemen SEGS juga memastikan bahwa kegiatan drilling ini juga dilaksanakan dengan menerapkan SOP dan protokol kesehatan guna menghindari penularan Covid-19 di kalangan pekerja,” pungkasnya. (Fahri/Cep/Haidy)

 

Tags: , , ,