Dari Rp50 Miliar hanya Rp13 yang Disetujui

Kota Bogor – Pemerintah Kota Bogor hanya menganggarkan Rp19 miliar untuk anggaran perbaikan puluhan sekolah rusak yang ada di Kota Hujan. Sebelumnya, melalui Dinas Pendidikan Kota Bogor, ajuan yang diusulkan sebesar Rp50 miliar.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor Hanafi mengatakan, ada tujuh sekolah yang mengalami kerusakan dan perlu perbaikan. Namun, jumlah tersebut bisa bertambah, mengingat belum seluruhnya laporan soal sekolah rusak diterimanya.

“Ada tujuh sekolah yang sudah melaporkan ke kami (Disdik). Kalau kita keliling lagi mungkin banyak SD yang juga mengalami kerusakan,” kata Hanafi kepada awak media.

Menurut dia, Disdik sudah mengajukan usulan anggaran Rp50 miliar untuk perbaikan sekolah rusak pada  tahun anggaran 2022.. Namun, setelah dilakukan ra­sionalisasi, anggaran yang di­sediakan hanya sekitar Rp30 miliar.

“Itu juga sudah termasuk un­tuk Lanjutan pembangunan sekolah satu atap yang kurang lebih butuh Rp13 miliar,” ucap dia.

Sekretaris Disdik Kota Bogor Dani Rahadian menambahkan, sektor sarana dan prasana di disdik juga termasuk yang kena ra­sionaliasi. Dari berbagai ke­giatan pembangunan, hanya kelanjutan pembangunan Sekolah Satu Atap saja yang tetap ada dan dipertahankan pada anggaran 2022.

Baca juga:  Hasil Verifikasi Faktual, 208 Calon Siswa  Didiskualifikasi, 4.979 Peserta PPDB Jalur Zonasi Gagal Sekolah di SMP Negeri Kota Bogor

“Sarpras sekolah itu hanya sekolah satu apat yang dipertahankan, sisanya hilang,” ucap dia.

Meski begitu, disdik sudah kembali  mengusulkan kepada Ba­dan Perencanaan Pembangu­nan Daerah (Bappeda) untuk memprioritaskan pembangu­nan atau perbaikan yang betul-betul urgen bila dibutuhkan.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya menginstruksikan disdik mengecek seluruh bangunan sekolah di Kota Bogor agar tidak ada lagi insiden amruknya bangunya sekolah.

“Saya minta Disdik meme­riksa kembali seluruh bangunan sekolah di Kota Bogor jelang pembelajaran tatap muka awal Oktober,” kata dia.

Ia juga meminta Dis­dik memasukkan check list kelayakan bangunan dan fasi­litas pendukung lainnya sebe­lum PTM dimulai awal Oktober 2021. Menurutnya, kejadian ambruknya atap bangunan SD Otista memberikan peringatan bahwa mungkin saja selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ada kondisi-kondisi yang tidak termonitor.(dkw/mtr)