Jembatan Leuwiranji Rawan Ambruk, Warga Desak Pemkab Segera Perbaiki

Jembatan LeuwiranjiJembatan Leuwiranji

Gunungsindur, HRB

Desakan warga dan pengendara agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor sesegera mungkin melakukan perbaikan Jembatan Leuwiranji semakin kencang. Pasalnya, meskipun Pemkab Bogor telah memasang spanduk himbauan agar kendaraan tonase besar tidak melintas secara beriringan, hal itu tampaknya tidak berpengaruh sama sekali.

Dikutip dari Kompas.com, kondisi jembatan yang menghubungkan Kecamatan Gunungsindur dan Rumpin itu, saat ini justru semakin mengkhawatirkan. Karena, banyaknya kerusakan di beberapa titik jembatan, kerusakan terjadi hampir di sepanjang jembatan mulai dari pelat, baut penyekat hilang hingga bantalan besi beserta tiang utama berkarat dan berpotensi patah.

“Spanduknya enggak ngaruh karena cuman imbauan saja, kita-kita ini ketakutan, was-was saat melintas khawatir ambruk. Kalau saya ada keperluan ke Gunung Sindur kan harus lewat situ karena akses jalan utama bagi warga sini,” ucap Ridwan Hasanuddin (41) salah satu warga Desa Sukamulya, Rumpin, Selasa, 2 Agustus 2023.

Pria yang kesehariannya juga melintasi Jembatan Leuwiranji itupun mengutarakan, jika jembatan itu merupakan akses utama bagi warga untuk beraktifitas, termasuk bagi warga yang ingin bepergian ke wilayah Tangerang.

“Kalau kondisi rusak itu sudah berpuluh-puluh tahun. Sering diperbaiki tapi rusak-rusak lagi. Baru dibangun tapi kekuatannya tiga tahun sudah hancur lagi. Sekarang rusak lagi dan cuman dipasangi spanduk dari kemarin-kemarin,” ungkapnya.

“Kondisi sekarang bukan cuman bautnya hilang, lepas, tapi besi-besi penyangganya retak dan platnya juga menganga sehingga dikhawatirkan terjadi kecelakaan. Segera dibangun aja, biar mobilitas kita bisa lebih baik dan tidak was was lagi,” lanjutnya.

Desakan serupa juga sempat dilayangkan Aliansi Gerakan Jalur Tambang (AGJT), mendesak Pemkab Bogor serta Dinas Perhubungan dan UPT Jalan Jembatan Dinas PUPR untuk bertanggung jawab.

Junaedi Adi Putra, Ketua AGJT memaparkan, pihak pemerintah telah lalai dalam memberikan regulasi izin kepada truk tambang yang melebihi kapasitas (overload) melewati jembatan Leuwiranji.

“Tutup total jembatan Leuwiranji dari aktivitas dari lalu lalang truk tambang yang melebihi kapasitas muatan (overload) dan segera melakukan perbaikan secara menyeluruh untuk jembatan Leuwiranji,” cetus Junaedi Adi Putra, Senin, 24 Juli 2023.

Baca juga:  Relokasi TPS Molor, BUMdes dan UPT Saling Lempar Tanggung Jawab

Selain itu, sambung Ketua AGJT, Pemkab Bogor harus memberikan jaminan keselamatan jiwa bagi pengguna jalan atas aktivitas truk tambang yang sudah mengganggu aktivitas masyarakat tersebut.

“Kami sudah melayangkan surat desakan nomor : 026/AGJT/Srt/VII/2023 ke Dishub Kabupaten Bogor untuk melakukan tindakan atas permasalahan tersebut,” ucap Junaedi Adi Putra.

Jun sapaan karibnya menjelaskan, alasan pihaknya melayangkan surat tersebut kepada Pemkab Bogor. Karena memang kondisi jembatan yang rusak parah serta mendapatkan laporan dari warga serta pengendara yang melintasi Jembatan Leuwiranji.

“Berdasarkan laporan dari warga dan assesment kami langsung ke lapangan, kondisi konstruksi dari jembatan yang merupakan akses penting penghubung dua wilayah kecamatan di Kabupaten Bogor ini, sudah banyak yang rusak,” jelas Jun.

Ia menambahkan, beberapa temuan di lapangan antara lain kerusakan bantalan besi utama yang patah. Besi utama berkarat dan bantalan penyangga yang sudah terlepas.

“Lalu ada plat dan baut penyekat bantalan jembatan hilang. Hal ini juga yang menyebabkan jembatan ketika dilewati truk dan kendaraan roda empat langsung bergoyang dan mengeluarkan suara,” tukasnya.

Seperti diketahui, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Infrastruktur Jalan dan Jembatan Wilayah VIII Parung, memasang spanduk untuk pembatasan truk tambang yang melintas di Jembatan Leuwiranji, Kecamatan Rumpin.

“Untuk kendaraan yang lewat harus antri, karena kondisi jembatan sudah mulai banyak kerusakan,” ungkap Penilik UPT Jalan dan Jembatan Wilayah VIII Parung Fahria Fitrayana.

Selain itu, Fahria Fitrayana mengatakan untuk rencana perbaikan jembatan mungkin bisa ditanyakan ke kepala UPT langsung. “Rencana perbaikan dan pemeliharaan untuk jembatan Leuwiranji tidak ada,” katanya.

Dirinya menambahkan, saat ini pihaknya hanya melakukan pemasangan spanduk karena kondisi darurat saja. “Mungkin akan kami tindaklanjuti lewat UPT sekaligus melihat tonase kendaraan yang melintas,” katanya.

Fahria Fitriyana menjelaskan, panjang jembatan tersebut sekitar 140 meter dan memiliki lebar 6 meter. “Yang jelas kami hanya lakukan pemasangan rambu saja, dan untuk perbaikan sama pemeliharaan tahun ini buat jembatan Leuwiranji tidak ada,” katanya. Fex/Axl