Kades Cileuksa : Huntara Memang Tidak Layak Huni, Dan Buat Warga Resah

Huntara di Kecamatan SukajayaIlustrasi: Huntara di Kecamatan Sukajaya. (Foto: Agus Komen/HRB)

HRB-Sukajaya- Kepala Desa Cileuksa Ujang Ruhyadi membenarkan adanya keluhan warga korban bencana yang menempati Hunian sementara (Huntara).

Warga penghuni huntara ini selalu dilanda kegelisahan dan ketakutan apabila hujan deras yang disertai angin kencang dan petir yang selalu menyambar atap rumah huntara yang terbuat dari baja ringan.

“Rumah huntara berukuran 3×6 ini seringkali atap nya disambar petir ketika hujan turun. Kebetulan atap nya dari baja ringan sehingga rawan sekali tersambar petir,” katanya, Sabtu (21/08).

Sambung Apih Sapaan akrab Ujang Ruhyadi menjelaskan, tidak hanya atap baja ringan yang selalu disambar petir yang dapat mengancam keselamatan warga pengungsi huntara, namun kesehatan bagi anak-anak dan balita juga dapat terancam.

Dengan ukuran 3×6 rumah huntara yang dihuni 4 orang warga ini sangat kecil dan pengap, sehingga tidak layak kalau terlalu lama ditempati. Karna dinding yang terbuat dari asbes ini dapat lembab apalagi ditambah atap nya banyak yang bocor saat hujan deras turun.

“Sangat tidak layak kalau terlalu lama menempati huntara, karena kondisi seperti ini dapat mengancam kesehatan bagi anak-anak dan balita,”jelasnya.

Lanjut, Ujang Ruhyadi menambahkan, ada sekitar 1500 Kepala Keluarga (KK) menempati gubuk huntara diwilayah Desa Cileuksa, warga sudah hampir 18 bulan tinggal dengan kondisi cukup memprihatinkan.

“Gubuk huntara berukuran 3×6 ini hanya memiliki satu ruangan saja sehingga terpaksa harus tidur bersamaan dengan istri dan anak-anak hingga saling berdesakan dengan ruangan yang sangat sempit itu,”ujarnya.

Baca juga:  Kades Curug Murka, Proyek Jembatan Program Samisade Molor

Meski demikian Ujang Ruhyadi mengatakan, dirinya sangat berharap kepada pemerintah daerah untuk segera memperhatikan terkait warga nya yang sudah hampir 18 bulan tinggal dihuntara untuk segera dibangun rumah relokasi hunian tetap (Huntap).

Dia pun mengakui, sampai saat ini pihaknya belum mendapat informasi secara jelas kapan rumah hunian tetap pasca bencana ini dibangun. Terlebih, sudah hampir satu tahun enam bulan belum juga ada realisasi pembangunan huntap bagi warga korban bencana longsor dan banjir bandang.

“Kami bersama para kepala desa lainnya yang ada dikecamatan Sukajaya, meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor khususnya Dewan dapil 5, berharap serius dalam mendorong dan menyampaikan aspirasi keluh kesah warga korban bencana yang saat ini menempati gubug hunian sementara (Huntara),” ucapnya.

“Warga sangat berharap adanya anggota dewan untuk mendorong dan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Daerah (Pemda) terkait kejelasan kapan relokasi pembangunan hunian tetap (Huntap) yang selama ini dinantikan oleh masyarakat agar dapat segera direalisasikan, mengingat warga sudah tidak betah tinggal dihuntara dengan kondisi yang sangat tidak layak untuk ditempati,” tandasnya. (Agus Komeng)