Pemkot Bogor Minta Polisi Usut Penipuan Atas Nama Wali Kota

Kota Bogor, HRB

Aksi penipuan melalui sosial media dengan mencatut nama Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto kembali terjadi. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tengah berkoordinasi dengan Kepolisian untuk mengusut pemilik akun WhatsApp palsu yang mengatasnamakan Wali Kota Bima Arya Sugiarto. 

“Kita juga sudah menyampaikan hal ini kepada pihak berwenang untuk bisa diselidiki apakah memang suatu jaringan atau kelompok yang sengaja melakukan penipuan kepada masyarakat,” ujar Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bogor Abdul Manan Tampubolon, Kemarin.

Modus penipuan tersebut sempat diunggah Diskominfo Kota Bogor melalui akun Instagram Teman Aksi Komunikasi dan Informasi Siber (Takis) Kota Bogor, @takiskotabogor. Hal itu untuk mengingatkan masyarakat agar lebih waspada akan modus penipuan yang mencatut nama pejabat di Pemkot Bogor.

Dalam unggahan Takis Kota Bogor, terdapat tangkapan layar percakapan WA dari nomor +62831-3154-1654 dengan nama dan foto profil Bima Arya Sugiarto. Isi percakapannya berisi soal pembangunan masjid. Penipu disebut meminta transfer uang koordinasi.

Padahal, segala bantuan dana hibah bantuan sosial (bansos) dari Pemkot Bogor, mulai dari proses pendaftaran, permohonan, hingga pembuatan proposal, harus melalui aplikasi Sahabat. “Kami warning (mengingatkan) masyarakat untuk berhati-hati. Khususnya panitia pembangunan masjid,” kata Abdul.

Baca juga:  Diduga Mengandung Racun, Waspadai Peredaran Ciki Kebul

Dia memastikan akun WA yang diunggah Takis Kota Bogor itu bukan milik Wali Kota Bima Arya. Ia menyebut akun tersebut merupakan penipu yang seolah-olah wali kota Bogor. “Belum diketahui (siapa penipunya),” kata dia.

Menurut Rahmat, pada Juni 2023 juga sempat muncul modus penipuan serupa yang mencatut nama wali kota Bogor. Bahkan, sang penipu membuat bukti transfer palsu, seolah-olah wali kota mengirimkan dana bantuan untuk masjid dari rekening pribadinya. “Sebelumnya ada juga dengan mengirim bukti transfer palsu,” ujar dia.

Abdul Manan mengatakan, bukan hanya wali kota yang namanya dicatut untuk modus penipuan. Menurut dia, nama wakil wali kota dan sekretaris daerah (sekda) juga pernah dicatut. “Memang bermacam-macam modusnya, tapi paling sering ditemui itu permintaan sumbangan untuk pembangunan masjid atau kegiatan sosial. Jadi, dua itu yang paling banyak,” kata Manan.

Sepengetahuan Manan, belum ada laporan korban yang mengirim uang kepada penipu dengan modus tersebut. Pasalnya, kata dia, biasanya warga yang menjadi sasaran penipuan itu langsung mengonfirmasi ke Pemkot Bogor. Pemkot merespons dengan membuat klarifikasi dan imbauan sebagai langkah antisipasi. (Ck)