Penambang Batu Kapur Ciampea Butuh Solusi

Foto : Tempat pengolahan batu kapur (Cubluk) di Kampung Mekar Jaya, Desa Ciampea. Rabu (16/6).(Haidy/HRB)

Ciampea – Aktivitas pertambangan gunung kapur di Desa Ciampea hingga saat ini masih terus berlangsung dan terus mengakibatkan kerusakan lingkungan. Aktivitas tambang yang menggunakan bahan bakar bakar ban bekas juga menjadi penyebab tercemar udara di kawasan tersebut.

Kepala Desa Ciampea, Suparman mengakui, adanya polusi udara akibat aktivitas pertambangan tersebut. 

“Itu sering dibahas di berbagai forum, dan belum ada solusi dari pemerintah daerah,” ungkapnya, Rabu (16/06).

Menurutnya, menutup aktivitas galian C tanpa izin gunung kapur bukanlah solusi. Pasalnya, ada ratusan warganya yang menggantungkan hidup dengan bekerja di pertambangan tersebut. 

Suparman mempertanyakan nasib warganya jika aktivitas pertambangan itu ditutup. Meskipun dirinya mengakui aktivitas penambangan yang dilakukan warganya tersebut salah karena telah mengeksploitasi alam tanpa izin resmi atau ilegal.  

Baca juga:  Truk Tambang Tetap Beroperasi, Dishub Kab Bogor Ngaku Siap Pasang Portal

Salah satu warga pemilik tempat pengolahan hasil tambang gunung kapur, Iyet mengatakan, dalam sehari dirinya membakar sekitar 3000 ban motor bekas atau 300 ban mobil bekas untuk mengolah batu yang akan dijadikan bahan pembuatan kapur. 

“Di sini ada sekitar 20 tempat cubluk (tempat pengolahan batu) yang masih beroperasi,” tandasnya.

Sementara Kapolsek Ciampea, Kompol Beben Susanto mengatakan, terkait masalah penambangan harus lebih dahulu di cek sejauh mana kegiatan masyarakat tersebut. 

“Yang saya tahu hanya sisa-sisa saja, bukan menggali, informasinya seperti itu, tapi kita cek lagi sejauh mana kegiatan masyarakat di sana,” pungkasnya. (Haidy)

 

Tags: