Pengrajin Tirai Bambu Berharap Bantuan Modal

Pengrajin Tirai BambuFoto : Bah Kanta Pengrajin Tirai Bambu menunjukan tirai bambu hasil buatannya (24/6).(Haidy/hrb)

Pamijahan – Sejak puluhan tahun silam, sebagian masyarakat di Desa Gunung Bunder II sudah menekuni usaha pembuatan tirai bambu secara tradisional. Salah satu lokasi masih eksis adalah  Kampung Dukuh Pasar Rebo di RT 08, RW. 03, Pamijahan Kabupaten Bogor.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang serba canggih. Kebutuhan tirai anyaman tergeser oleh produk mesin hingga tirai bambu sedikit peminatnya.

Ditemui di kediamannya, Salah seorang pengrajin tirai bambu yang akrab disapa Bah Kanta (60) tetap menjalankan kesehariannya sebagai pengrajin meskipun di masa pandemi demi untuk menyambung kehidupan sehari-hari keluarganya. 

Dia menjelaskan kalau keterampilannya merupakan turun-temurun dari keluarganya bahkan ia mengaku sudah puluhan tahun menjadi pengrajin berbahan baku bambu tersebut.

“Untuk proses kerajinannya memang lumayan sulit karena harus mencari dulu bahan baku berupa bambu tali, dan dijemur supaya kering lalu di kupas,” ungkapnya.

Baca juga:  Drilling Pengeboran PT. Star Energy Ditolak Warga

Sementara tirai bambu yang dibuatnya dihargai antara Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu. Tergantung ukuran pesanan dari para pembeli. Ia pun bisa memproduksi 10 sampai 15 Tirai Bambu dalam sebulan.

“Kalau harga per meternya Rp.45.000, terserah pemesan atau pembelinya sendiri untuk ukurannya, dan modelnya pun variatif ada tirai dengan corak maupun polos,” ujar Abah Kanta.

Diakuinya, selama dirinya menjadi pengrajin belum pernah mendapatkan bantuan modal usaha dari manapun, hanya mengandalkan modal sendiri. 

“Ya kalau diberi bantuan modal kan bisa stok barang, juga bisa mempekerjakan warga sekitar. Apalagi di masa pandemi covid 19 ini warga yang banyak yang nganggur,” pungkasnya. (Haidy)

 

Tags: ,