Puncak Kekeringan, Lahan Resapan Air Ludes Jadi Bangunan

Puncak KekeringanPuncak Kekeringan, Lahan Resapan Air Ludes Jadi Bangunan

Megamendung,HRB-Meski hujan mulai turun di sebagian wilayah Puncak, Ciawi dan Megamendung dan sekitarnya, namun hingga saat ini sebagian warga di kawasan hijau tersebut masih mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau panjang dan hilangnya sejumlah mata air akibat pembangunan.

Ekas Sumarni, salah seorang warga Kampung Gadog RT 5/3, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor mengaku sejak enam bulan lalu ia dan warga lainnya merasakan kekeringan dan kesulitan air hingga harus mengemis ke salah satu Villa yang berlokasi di dekat pemukiman warga. 

“Sudah 6 bulan lah ya krisis air, ini parah si biasanya cuman 3 bulan, jadi kita ngambil di villa 31 ini,” ujarnya, Minggu 17 September 23

Eka mengaku villa tersebut memberikan air bersih kepada warga sekitar secara cuma-cuma, namun hanya diberikan waktu selama 1 jam saja untuk warga mengisi air.

“Sehari dua kali pagi sama sore. Kalau pagi mulai dari jam 6, sore mulai dari jam 4. Alhamdulillah cukup kalau buat minum dan mandi, kalau buat nyuci mah di bawah aja di mata air gapapa agak kotor juga,” paparnya.

Selama kurun waktu 6 bulan tersebut dirinya mengaku hanya pernah dikirim air sekali oleh Pemkab Bogor melalui Damkar, namun air yang dikirim Damkar tersebut menurutnya kotor dan tidak bisa digunakan untuk minum.

“Pernah dikirim cuman sekali, itu juga berebut. Terus juga airnya nggak bersih, gak ada yang buat minum jadi kiriman dari pemadam itu buat nyuci aja sama mandi daripada gak ada lagi,” paparnya

Baca juga:  Diduga Tak Berizin, Proyek Cut and Fill di Batulayang di Protes Warga

Terpisah, salah seorang warga lainya bernama Arifin 47 tahun mengaku kesulitan air ini seharusnya tidak perlu terjadi di kawasan puncak dan sekitar nya, karena kawasan tersebut berada di atas ketinggian dan memiliki cadangan air dari pepohonan serta hutan yang ada.

“Saya mah aneh Kang, masa iya kita yang di puncak ini bisa kekeringan, kan itu berada di kawasan resapan air, dan mata air dimana mana. Tapi ko bisa begini ya,” ketus Arifin.

 Arifin menjelaskan, sejak kecil Ia dan keluarganya tinggal di kawasan puncak Megamendung dan sekitarnya tapi tidak pernah merasakan kesulitan air seperti sekarang ini.

“Yah saya dari kecil di puncak sini, orang tua kakek buyut saya dari Cisarua dan Ciawi, separah apapun kemaraunya tapi kami tidak pernah merasakan kesulitan air,” jelasnya.

Selain musim kemarau, hilangnya mata air dan berubah fungsinya kawasan resapan air menjadi bangunan diduga menjadi penyebab terjadinya kekeringan, hingga mengakibatkan warga kawasan puncak dan sekitarnya kesulitan air.

“Kemarau mah sudah biasa, namanya juga musim, tapi ini kan bukan hanya kemarau, mungkin karena hilangnya mata air dan banyaknya bangunan di daerah resapan air,” katanya. (djm)

Tags: