Sepi Pengunjung, PSK Pulang Kampung Berkebun

Foto: Jalan Raya Kemang-Parung tempat mangkal PSK nampak sepi.(diyon/hrb)

Parung – Dampak Pandemi Covid 19 juga dirasakan para pekerja seks komersial (PSK) di wilayah Parung dan Kemang, sepinya job atau pelanggan disaat pandemi, satu-persatu PSK pulang kampung untuk mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup.

Nampak jelas Jalan Raya Kemang – Parung yang setiap malamnya ramai PSK mangkal, Minggu (04/07/2021) dini hari terlihat sepi. Bahkan tidak terlihat ramainya wanita penjaja birahi itu yang mangkal. 

Salah satu pemilik warung di jalan Raya Parung Indra (45) mengatakan, semenjak pandemi corona PSK yang biasa mangkal di sepanjang jalan ini mulai berkurang. Yang dulu bisa ramai dan berkelompok untuk mencari mangsa. Karena pandemi mereka mulai berkurang.

“Biasanya ada saja yang nongkrong di sini. Sambil ngopi mereka menunggu pelanggan. Diperparah kemarin diberlakukan PPKM darurat semakin sedikit saja jumlah mereka. Malam ini saja yang terlihat hanya tiga orang. Pas saya nanya ke mereka teman-temanya kemana. Mereka jawab. Yang lain sudah banyak yang pulang kampung, untuk mencari pekerjaan lain,” ujarnya. 

Masih kata Indra, alasan mereka (PSK-red) pulang kampung karena kesulitan mendapatkan uang. Dengan biaya yang sangat besar tinggal disini. Mereka harus membayar kontrakan, listrik, dan make up membuat sebagian PSK memilih pulang kampung dari pada tinggal di perantauan tidak makan.

Baca juga:  Kesulitan Cari Investor, Penataan Jalur Tambang Parung Panjang-Cigudeg Mandek

“Ya ada yang dari Cianjur, Sukabumi, Cirebon, Indramayu dan masih banyak lagi wilayah lain. Saya dengar PSK yang di wilayah Cianjur pulang kampung untuk mencari kerja serabutan, seperti kerja menanam padi. Saya juga terkena dampak dengan sepinya PSK yang tidak mangkal lagi,” sambung Dani.

Sementara salah satu pemilik kontrakan di wilayah Desa Iwul, Kecamatan Parung Nanang (56) mengaku kontrakanya mulai sepi. Sepinya kontrakan miliknya mulai terasa setelah pandemi covid 19 sudah setahun. Dan beberapa bulan terakhir mulai terasa menurun drastis. 19 petak kontrakan miliknya. Saat ini hanya terisi delapan pintu.

“Saya tidak tahu yang pada pulang itu PSK. Yang penting yang mengontrak di saya harus menunjukan identitas seperti KTP. Dan yang berpasangan harus menunjukan KTP dan Buku nikah. Dan untuk yang ngontrak sendiri dilarang membawa tamu. Saya baru tahu mereka itu PSK setelah mereka pergi dan banyak warga yang bilang, harapan saya pandemi ini lekas beres. Supaya perekonomian saya kembali lagi,” tutup Kakek tiga cucu itu. (Diyon)

 

 

Tags: