Situs Moseleum Van Motman Butuh Perhatian Pemkab Bogor

Leuwisadeng, HRB – Menilik Situs Moseleum Van Motman berlokasi di Kampung Pilar, Desa Sibanteng, Kecamatan Leuwisadeng. Makam ini letaknya ditengah pemukiman warga diharapkan mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Bogor.

Menurut Juru Pelihara Situs Moseleum Van Motman, Ucu Sumarna (71) menyampaikan bahwa pada masa Belanda, di Dramaga pernah tinggal keluarga van Motman. Van Motman menjadi sebuah marga dengan founding father seorang tuan tanah bernama lengkap Gerrit Willem Casimir (GWC) van Motman.

“Moseleum ini merupakan tempat pemakaman keluarga dan kerabat van Motman,” kata Ucu Sumarna kepada wartawan pada, Selasa 24 Oktober 2023.

Ucu Sumarna menjelaskan, pada halaman depan menuju bangunan makam terdapat sejumlah bangunan bata berbentuk segi empat itu merupakan pilar monumen makam yang berada di areal lahan yang saat ini ada seluas 60×60 meter.

“Bangunan bata tersebut merupakan nisan-nisan makam anggota keluarga van Motman,” katanya.

Bangunan utama pada kompleks makam ini bergaya neo klasik, letaknya di sebelah utara lahan kompleks. Gerbang makamnya lurus dengan gerbang masuk halaman kompleks makam. Dari sejumlah informasi yang didapatkan, disebutkan bahwa bangunan makam utama dahulu adalah mausoleum yang merupakan tiruan dari Katedral Santo Petrus di Roma, Italia. Bangunan tersebut berdenah salib.

Baca juga:  Masjid Jami Miftahul Falah Cisarua Diresmikan

“Gerrit Willem Casimir (GWC) menjadi tuan tanah dengan luas total kepemilikan seluas 117.099 hektar itu hanya di wilayah Kabupaten Bogor saja, belum di cianjur, sukabumi, dia yang tertinggi lah, tanah dia buat perkebunan,” katanya.

Kondisi saat ini, Ucu Sumarna berharap kepada pemerintah Kabupaten Bogor untuk lebih memperhatikan situs sejarah tersebut.

Lokasi tersebut kini dikelilingi hanga dengan pagar dari bambu. Bangunan tersebut sudah mulai lapuk termakan usia.

“Ya saya sih berharap kepada pemerintah untuk segera melakukan pemugaran kedepannya,” katanya.

Lokasinya yang berada di pemukiman warga tersebut tidak memiliki lahan parkir. Padahal, kata dia lokasi tersebut tak jarang didatangi pelajar maupun mahasiswa untuk melakukan wisata sejarah.

“Ya lahan nha sempit gak ada untuk parkir kalau ada pengunjunh,” katanya.(Fex)