Vaksin Masih Tersisa 14.000 Dosis, Kota Bogor Sulit Capai Vaksinasi 100 Persen

Kota Bogor – Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, pesimis terhadap capaian vaksinasi hingga 100 persen di Kota Hujan ini. Masyarakat dengan komorbid dan para penyintas menjadi kendala yang membuat sulitnya mencapai target tersebut. Hingga pertengahan pekan ini, capaian vaksinasi Kota Bogor baru menembus 87,5 persen.

“Capaian 100 persen agak sulit, karena ada beberapa terkait komorbid, penyintas masih harus menjalani karantina selama tiga bulan. Jadi itu yang kegiatan kalau kita paksakan, paling tidak membutuhkan waktu sedikit lagi,” kata Dedie, baru-baru ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor dr Sri Nowo Retno mengatakan sekarang ini skema yang dilakukan tetap memaksimalkan sentra vaksin, serta menyisir wilayah secara door to door ke warga.

“Kerjasama dengan camat, lurah, RT, RW hingga puskesmas dan posyandu. Kita tinggal sisir door to door sekarang. Tapi sentra vaksin tetap ada,” ujar Sri.

Sedangkan untuk stok vaksin di Kota Bogor, Kadinkes mengungkapkan pihaknya masih mempunyai sisa vaksin sekitar 14.000 dosis dengan berbagai jenis.

Baca juga:  THM di Kemang Dibongkar Tahun Ini, Satpol PP Bredel Spanduk Liar

“Stok kita masih punya (vaksin) Sinovac untuk dosis 1 dan 2, terjadwal kemudian (vaksin) Pfizer masih ada, Moderna juga. Ya sisa sekitar 14 ribu dosis,” tukasnya.

“Kita akan habiskan dosis 1 dan 2 dulu. Terutama untuk yang komorbid, kita kasih yang Moderna. Lalu Moderna itu masih ada yang dosis 3 untuk Tenaga Kesehatan (Nakes) karena kita dapat jatah lebih banyak dari jumlah sasaran kita, jadi masih ada,” imbuh mantan wakil direktur RSUD Kota Bogor itu.

Meski demikian, dr Sri mengaku kesulitan mengejar target vaksinasi 100 persen dalam waktu dekat. Penyebabnya, sasaran vaksin disebut sudah habis setelah dilakukan penyisiran secara door to door hingga pendataan oleh wilayah. Selain itu, ada kendala vaksinasi terhadap komorbid dan penyintas.

“Real-nya disisir door to door, RT RW mendata, orang (sasarannya, red)-nya sudah habis. Kenapa begitu? Karena sasaran di KPC-PEN itu lebih besar dari data kita, jadi orangnya sudah habis tapi jatah vaksin masih ada. Selesai target ya mungkin nggak,”ujar Retno. (djm)